![]()
Kemajuan sebuah masyarakat tentu bukan tanggungjawab perseorangan, melainkan semua pihak yang menjadi bagian dari masyarakat tersebut. Jika masyarakat diumpamakan sebagai sebuah bangunan, maka bagian-bagian dari bangunan tersebut menyumbangkan manfaat kepada bangunan sebagai identitas yang mengikat bagian-bagian ini. Misal, pranata pendidikan tidak bisa melepaskan diri kepada pranata ekonomi, agama, dan yang lainnya juga sebaliknya.
PENERBIT
Atas dasar pemikiran seperti itu, Gola Gong dan Tias Tatanka mendirikan perusahaan bernama Gong Media Cakrawala (GMC), bergerak di bidang penerbitan (publishing), promosi, TV Program, dan pengelola acara (event orginizer). Gola Gong, Direktur GMC menjelaskan, ”Selain dimaksudkan untuk mensubsidi kegiatan di Rumah Dunia, GMC juga bermaksud memberikan ruang berekspresi bagi remaja Banten! Terutama di penerbitan dan film.Sebut saja ii sebagai memaksimalkan potensi lokal!”
Sebagai penerbit, GMC akan menerbitkan buku-buku yang ditulis penulis lokal Banten. Kita tahu, hingga sekarang di Banten belum ada penerbit yang mapan. Suhud Media Promo baru sebatas menerbitkan buku-buku kuliah dari dosen atau bekerja sama dengan Rumah Dunia mencetak kumpulan puisi dan cerpen. Suhud pernah menerbitkan novel Gola Gong: Pada-Mu Aku Bersimpuh, tapi karena kekurangan sumber daya manusia, harus merelakan novel Gola Gong itu diambil alih Penerbit Dar! Mizan.
LITERACY CILINIC
Langkah awal GMC, bekerjasama dengan Radar Banten Institute (RBI), lini pendidikan yang bernaung di Litbang Radar Banten dan Perpusda Banten, mengadakan workshop sehari ”Literacy Clinic: Speed Reading, Quantum Writing, and The Art of Library”, Sabtu 8 Juli 2006, pukul 09.00 – 17.00 WIB, di Kasuari Room, Hotel Sari Kuring, Cilegon. Sekitar 80-an peserta dengan antusias mengikuti acara ini.
Materi yang didapat para peserta adalah bagaimana caranya membaca cepat (speed reading), menulis cepat (quantum writing), dan seni mengelola perpustakaan. Nara sumbernya cukup mumpuni; Hernowo, penulis buku “Mengikat Makna” dari Mizan, Soedarso penulis buku ’Speed Reading”, dan Wien Muldian, direktur Senayan@library, Diknas Jakarta.
Adakah hubungannya literacy cilinic dengan Banten, yang baru belajar membaca diusianya yang keenam? Soedarso menjelaskan, ”Speed Reading adalah skills penting untuk meningkatkan karir dan membuat bekerja jadi efektif. Cepat menyerap informasi yang diperlukan. Cerdas baca buku, cerdik membidik isi buku, koran, dan majalah.” Sedangkan Hernowo menambahkan, “ Quantum writing yaitu menulis dengan menggunakan otak kanan dan kiri, seluruh kecerdasan (multiple intellingence) serta totalitas diri.”
Ini tentu terkait dengan budaya membaca, yang tidak dikenalkan sejak dini di masyarakat banyak. Kita tahu, budaya lisan sudah sangat mendominasi. Menurut Wien Muldian, direktur senayan@libary, Perpustakaan Diknas Jakarta dan penggiat literasi, ”Budaya literasi di Indonesia hal baru. Dari segi istilah, literasi bukan sekedar membaca dan menulis, tetapi sebuah kemampuan membaca berbagai fenomena yang ada di masyarakat. Khususnya melalui tulisan dan audio visual.” Wien menambahkan, bahwa tujuan dari aktivitas literasi agar masyarakat memiliki pemahaman yang sistematis, bermanfaat dan runtut, yang akhirnya bisa berperan meningkatkan tingkat hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya. ”Keberadaan perpustakaan jelas berperan penting mewujudkan budaya literasi di masyarakat!” tegas Wien.
BANTEN STAR
Kegiatan kedua GMC, bekerjasama dengan Radar Banten,Banten Raya Post, dan Alfa Mart, menggelar hajatan ”BANTEN – Sekarang Giliranmu!”, sepanjang Agustus – november 2006. Banten Star memang mengadaptasi Indonesian Idol, AFI atau KDI walaupun dengan variasi yang berbeda, yaitu lebih ke akting. ”Jika dia pandai menyanyi tentu memiliki nilai plus!” kata Ferry, Sales and Marketing GMC.
Sekitar 112 anak muda Banten; mulai dari Tangerang, Lebak, Pandeglang, Cilegon dan Serang bersaing. Mereka diaudisi di rumah makan S’Rizky. Mereka di”adili” para juri; Toto ST Radik, Agres Setiawan, Gola Gong, Ocha, dan Firman Venayaksa. ”Jurinya kejam!” kata Adam, peserta dari Lebak. ”Masak saya disuruh makan kaos kaki? Tapi, jujur aja, saya suka!”
Kelima juri secara beragam mengetest para kontestan Banten Star. Tidak hanya kemampuan berakting, menyanyi, tapi juga pengetahuan umum lainnya. Ada yang disuruh menangis, membca sajak, berjoget, menjadi orang gila, dan menebak teka-teki. Kata Firman, salah seorang juri, ”Banten Star harus kuat mental, juga berwawan luas.”
Tersisa sekitar 40 orang. Mereka dipajang di Radar Banten dengan sistem polling. Pembaca Radar Banten dipersilahkan memilih peserta yang disukainya. Tersaring 20 finalis. Pada 9 November 2006, GMC menggelar acara ”Extravaganza: Malam Penganugrahaan”, bertempat di Radar Banten. Terpilihlah Anggi Rospidia, siswi SMPN 1 Serang dan Anton Chandra, mahasiswa FH Untirta Serang sebagai Ratu dan raja Banten Star 2006.
Lalu, kemanakah sekarang keduapuluh Banten Star itu? Menurut Piter Tamba, Menejer operasional GMC, ”Anak-anak Banten Star adalah aset Bnten. Mereka nggak kami terlantarkan!”
*) Jurnal ini dimuat setiap Rabu di koran Banten Raya Post, edisi 18 April 2007
*) Foto: Band Activa an Banten Star saat Xtravaganza, 9 November 2006 di Plaza Radar Banten
Leave a Comment
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
