DICARI, SPONSOR FILM SAIJA ADINDA

pm-com.jpgSaija Adinda, Cinta Terlarang Sepasang Remaja yang dibalut Dunia Literasi. Saija memilih takdir cintanya kepada Adinda, seperti ditorehkan Multatulli dalam novel Max Havellar

1.1 Latar Belakang
Film adalah sebuah karya yang unik. Yang melibatkan banyak unsur,  seni video, audio dan peran. Dengan sifatnya dan karakternya itu film merupakan media yang paling aktif sebagai sarana hiburan, pendidikan dan transfer kebudayaan. Banyak orang yang melirik film sebagai alat untuk menyampaikan pesan seperti iklan komersil, iklan layanan masyarakat atau film dokumenter.

Saat ini geliat perfilman tanah air mulai tumbuh lagi setelah berpuluh-puluh tahun tertidur. Banyak production house berdiri, dan sineas-sineas muda tanah air muncul. Dengan persspektif dan idea yang baru mereka mulai menjadi raja di rumahnya sendiri. Film tanah air mulai ”dicintai” lagi. Ini adalah kabar yang menggembirakan yang harus kita dukung perkembangannya.

Tema remaja metropolis, kaya dan pintar merupakan pilihan favorit yang banyak digarap oleh PH dan Sineas dewasa ini. Masih sedikit diantara mereka yang melirik  atau mengangkat tema cerita kelokalan dengan sentuhan modern. Dalam artian tema yang menggabungkan antara masa lampau dan kekinia. Padahal tema ini mulai diburu oleh para penonton. Naga Bonar 2  garapan Dedy Mizwar adalah suatu pertanda yang merujuk kepada arah sana. Orang-orang “modern” mulai ingin mencari dan menikmati kenangan masa lampau Tanah Airnya. Sentuhan Modernitas dan Tradisional ditunggu oleh penonton.

Film Saija Adinda: Korban Cinta Terlarang yang akan digarap ini merupakan kisah cinta yang penuh nuansa kelokalan yang ada di daerah-daerah terutama di Banten.  Film ini Akan Mengisahkan tentang fenomena remaja modern di tengah nuansa tradisional dan pertumbuhan dunia literasi di Banten. Dengan segala fenomena dan tantangan hidupnya.     

1.2 Aspek Komersial
Tema cinta merupakan cerita yang tidak akan pernah mati sepanjang hidup umat manusia. Dengan tema Cinta remaja film ini akan menarik penonton. Film ini akan menjadi media yang paling efektif  untuk menarik simpati anak-anak muda kepada dunia literasi. Terutama anak-anak muda Banten yang sedang melek film.

1.3 Target Audiens
Sesuai dengan desain produksi film ini, target  utamanya adalah kawula muda di Banten khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.  

1.4 format Produksi
Format film ini adalah film layar lebar dengan durasi 50-60 menit. dengan format indie. Karena itulah semua pelaksana pembuatan film dari mulai pra produksi-produksi-pasca produksi berasal dari banten yang telah memiliki pengalaman di dunia perfilman. mereka sebelumnya adalah film indie maker

1.5 Setting
Setting film ini adalah sepenuhnya di daerah banten
– Rangkasbitung
– Serang
– Anyer
– pandeglang

1.6 Penyutradaraan
Masih sedikit tema film yang menggali cerita kelokalan dengan menggabungkan modernita dan tradisionlitas. Maka itu dibutuhkan teknik penyutradaraan yang memiliki pengalaman pada jenis film ini. Adapun sutrada yang akan menggarap film ini adalah sineas yang sudah berpengalaman di Banten.

1.7 Penulis
Film ini berdasarkan ide cerita Gola Gong dan teman-teman Rumah Dunia yang skenarionya ditulis oleh Aji Setiakarya yang merupakan penulis muda asal banten. 

1.8 Pemain
Ppemain film ini adalah para finalis banten star yang merupakan hasil audisi masyarakat banten melalui potensi keintelektualan, peran dan seleksi melalui di koran Radar Banten. Mereka pernah berkali-kali menjadi figuran pada sebuah drama religi Ujang Santri dan Cafe Soleh yang ditayangkan oleh RCTI.

Di dunia entertaintmen di  Banten, nama Banten Star tidak asing lagi.  Antara lain:
 
Anton  : Saija
Aldila  : Andre, sosok yang suka pada Adinda, Anak pejabat
Gofur  : Gigin Kakak Adinda yang cuek terhadap kelakuan ayah dan keluarganya. Ia ngak mau tau dengan peristiwa yang dialami oleh adik dan ayahnya.

Adam Rangkas   : Pesuruh Aji : Adam, agak lugud. Selalu dimarahin, tapi ia selalu ngikut Aji.

Eman  ; Temannya Aji : Eman, temannya Aji yang sering memprovokasi Aji untuk melakukan hal-hal yang jahat. Dan Eman selalu diterima idenya ketimbang Adam.

Rere            : Ferdi, salah seorang teman Saija di Rumah Dunia. Dia adalah pelayan Kafe

Selvi  : Pacarnya Aji : mahasiswa ekonomi yang menonjolkan kekayayaanya saja. mata duitan dan mau menuruti keinginan  Aji. Yang penting kebutuhan fisiknya dirinya terpenuhi.

Risa  ;  Pacarnya Adam, agak centil seperti Selvi. Ia sedikit memiliki empati tapi ketus sama orang. Hubungan dengan Selvi sama-sama baiknnya. Tapi sama saja ia perek. Wanita yang hanya ingin menghabiskan uang seseorang aja. Dalam setiap makan bersama. Mereka dibosin terus sama si Aji.

Dini  : Riva, cewek yang suka sama Saija. Agak cabul dan menggoda seperti halnya  Selvi

Desi   : Temannya Riva, teman Ngerumpi Riva

Novi   : Ibu Guru  

Lia Gunarti : Penjaga Perpustakaan :

Surya ; Rimba, teman Saija yang bijak dan memperhatikan Saija. Dia adalah    relawan Rumah Dunia.  Temannya Saija/ Mengadu ke orang tuanya, seorang yang bijak. Teman curhatnya Saija. Ia penurut

Rudi  : Temannya Faqih, Gang Saija  

Saful Anwar : Temannya Faqih, Gang Saija

Ridea : Temannya Adinda di Kelas. Dia bijak dan selalu memberi jalan keluar. Tapi dia teman biasa aja. Adinda hanya kenal biasa

Adam Serang : Tukang Ngomel di Lorong-lorong sekolah, temannya yang masih sedikt perhatian pada Saija.

Lina : adalah teman cewek Saija di kampung. Saat berkunjung ke rumah kakeknya. Cewek ini sempat memberikan pandangan.

Dina : Adiknya Adinda yang selalu menyamangati Saija.
1.9 Proyeksi Pemutaran Film
Film ini akan di putar di seluruh kota yang ada di banten dengan bioskop indie. Dengan dibarengi penampilan band lokal yang tidak asing bagi para pecinta musik di banten dan mengundang Band Top 40.

- Serang
– Cilegon
– Pandeglang
– Tangerang kota
– Tangerang kabupaten
– Lebak

1.10 Penutup
Film dengan sentuhan modernitas dan tradisional akan lebih menarik penonton di tengah kehadiran film tanah air yang didominasi dengan tema-tema kehidupan yang metropolis. Apalagi ceritanya diangkat dari tema Banten yang tidak asing lagi di tengah masyarakat.
 
1.11 SINOPSIS UMUM:

SAIJA-ADINDA
Cinta Terlarang Sepasang Remaja yang dibungkus Dunia Literasi
”Aku Bakal dibaca!” Multatulli dalam Max Havellar
Ide Cerita: Gola Gong
Skenario Oleh Aji Setiakarya

Babak I
Di sebuah wilayah Banten hidup seorang Abah Sujali (40). Ia adalah sosok yang ditakuti oleh masyarakat karena label kejawaraan yang dimilikinya. Ia berani dan kasar. Abah Sujali terkenal sebagai orang yang menguasai sektor swasta dan pemerintahan. Orang-orangnya dekat dengan kekuasaan. Selain itu Abah juga pemuja wanita. Abah Sujali beristri tiga.

Pada suatu malam sedang diadakan peringatan hari ulangtahun kemerdekaan di sebuah kampung. Sudah menjadi kebiasaan jika seorang yang memiliki uang menari di atas panggung dengan mengibarkan uang pada si penarinya. Malam itu yang menari adalah Citra (25), gadis cantik yang menjadi bunga desa. Abah Sujali langsung naik ke panggung untuk berjoged.
Hasrat Abah langsung menggelegak ingin menyentuh tubuh Citra yang sintal itu. Seperti yang dilakukan pada penari-penari sebelumnya, lelaki yang sudah punya banyak cucu ini merogoh uang lalu mendekati Citra. Dan meletakan uangnya pada buah dada. Tanpa diduga, Citra menghempaskan tangan Abah Sujali. Abah Sujali berang. Ia kemudian hendak menyeret Citra. Tapi saat terjadi perselisihan, muncul seorang lelaki dari kerumunan penonton. Ia adalah Heryanto  (30), seorang wartawan lokal. Ia adalah orang Banten asli tapi besar di Jakarta.
Lelaki ini kurang dikenal oleh masyarakat Banten.
Heryanto adalah wartawan idealis. Selain wartawan ia memiliki kelebihan yang membedakan dengan wartawan lainnya, ia adalah senang menulis dan membaca buku-buku fiksi. Diantara buku favoritnya adalah Max havelar yang ditulis oleh Multatuli yang menceritakan tanah Banten Selatan yang didalamnya terdapat unsur humanisme dan romantisme tentang seorang tokoh bernama Saija-Adinda. Karena itulah kemudian Heryanto tidak senang melihat orang ditindas. Ia selalu ingin membela yang tertindas.
Ia selalu menuntut keadilan. Dengan rasa gemetar Yanto  menghentikan
ulah Abah Sujali yang mempermainkan Citra di atas panggung. Sujali yang merasa berkuasa di daerah Banten merasa dilecehkan oleh Yanto.

Tanpa perintah, centeng Abah Sujali  berhamburan hendak menyerbu Yanto. Tapi  Yanto buru-buru mengangkat kamera, mengaku wartawan dan mengancam akan memberitakan Abah Sujali. Abah Sujali memang paling takut dengan wartawan. Karena itulah Abah Sujali menghentikan centengnya dan meninggalkan tempat acara. Sejak saat itu Sucitra bersimpati. Dan akhirnya mengantarkannya pada sebuah pelaminan.

Babak II
SAIJA (18), tidak tampan. Tapi kemampuannya menulis puisi dan berkiprah di komunitas seni telah menarik wanita menyukai dirinya. Terutama kesopanannya, memikat kaum hawa. Banyak cewek yang ingin menjadi pacarnya. Tapi Saija tidak ingin menjadi  cowok opurtunis yang mudah jatuh cinta.  Kepribadian itu memang warisan dari ayah dan ibunya yang tak lain adalah Heryanto dan Sucitra. Heryanto selalu megingatkan Saija untuk banyak membaca buku. Terutama buku sastra.

Romantisme kata-kata yang ditunjukan oleh puisi Saija dan kesederhanaan Saija dalam berperilaku sepertinya menjadi pemikat.  Reva, adalah salah satu cewek yang paling agresif. Cewek yang memiliki lengkung wajah yang simetris. Reva adalah bintang kampus. Berkali-kali menjebak Saija untuk menjadi pacarnya meskipun berakhir dengan kegagalan.

Elinda adalah cewek lainnya yang sempat digosipkan  menjalin hubungan dengan Saija. Elinda siswi berjilbab  dan berkacamata yang cantik. Ia adalah siswi teladan SMA Mekarsari. Berkali-kali ia jadi juara umum di sekolahnya. Tapi, Saija tetap tidak menerimanya. Bagi Saija, cewek tidak bisa diukur dengan fisik dan otak.

Selain Aktivitas menulis puisi di mading, Saija suka latihan teater bersama padepokan Seni SMA I Ray Syahdu. Kegiatan rutin yang tidak bisa ditinggalkannya adalah membaca buku. Hampir dua minggu ia tidak berkunjung ke perpustakaan. Dan siang itu ia ingat ingin membaca novel Budi Darma yang disinggung oleh guru sastranya. Setelah tanda istirahat berbunyi. Saija bergegas ke perpustakaan. Saat diperpustakaan inilah tanpa disengaja Saija menabrak seorang wanita yang sedang melepas tasnya. Dari tampilannya wanita ini jauh dari kemewahan. Tatapan matanya penuh keteduhan. Dan gaya tuturnya sopan. Padahal Saija yang bersalah, telah menabrak  wanita ini. Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan  pada diri Saija saat menatap wajah wanita ini. Saija akhirnya berkenalan. Dan Saija kaget sekali saat ia tahu namanya Adinda. ”Seperti dalam kisah Maxhavelar,” bisiknya dalam hati.

Dari pertemuan-pertemuan itu Saija akhirnya menilai kalau Adinda yang ia kenal memang wanita ideal yang ayahnya cita-citakan dan ia impikan. Ia harus segera mengutarakan apa yang ada dalam hatinya kepada Adinda.

Kedekatan Saija terhadap Adinda ternyata menimbulkan banyak masalah. Adinda ternyata adalah orang yang “terasingkan” oleh teman-teman sekelilingnya. Hal itu disebabkan karena Adinda ternyata anak Abah Sujali, sang jawara yang dikenal disekolah sebagai orang yang tangan besi dan suka membuat onar. Ditambah dengan perilaku Aji, kakak Adinda yang suka membuat onar disekolahnya membuat Adinda menjadi orang yang tidak memiliki teman. Kecuali Andre, anak pejabat yang ingin mencintai Adinda karena nafsu belaka dan kecintaan terhadap harta orangtuanya. Karena orangtua Andre sering berhubungan dengan Abah Sujali. Keadaan seperti itu membuay Adinda tertekan. Sebagai tempat pelarian Adinda mendekatkan dirinya pada buku. Buku-buku sastra adalah buku favorit yang disenanginya. Melihat kenyataan ini, membuat Saija bertambah iba terhadap Adinda. Rasa cintanya semakin tertanam ke lubuk hati Saija. Apalagi, setelah banyak berdialog dengan Adinda secara dekat. Saija mengetahui karakter Adinda yang sesungguhnya. Keputusan teman-temannya untuk mengasingkan Adinda sesuatu yang salah.

Saija bertanya kepada bapaknya tentang persoalan –pesoalan sekitar nama. Dan maksud Pemberian hadiah novel Maxhavlear yang diberikannya pada usia yang ke lima belas. Dia juga menanyakan perihal wanita yang ideal yang dinginkan oleh keluarganya.  Menjawab pertaanyan-pertanyaan itu. Ibu Citra mengingatkan pada masa-masa silam, saat mengajak Saija dan suaminya sengaja pergi untuk rekreasi.

Saija memutuskan Adinda sebagai teman spesialnya, menjadikan cewek itu sebagai pacarnya. Mulai saat itu Saija menjadikan Adinda sebagai tempat curhat. Perpustakaan adalah tempat favorit mereka. Di sela-sela membaca buku-buku sastra mereka kadang memperbincangkan hal di luar materi buku, alias soal CINTA. Teman-teman dekat Saija mengomel dengan keputusan Saija yang memilih Adinda sebagai pacarnya. Beberapa orang yang  ingin menjadi pacar Saija seperti Riva berkali-kali menunjukan ketidaksenangannya dihadapan Saija dan Adinda sendiri.

Saat istirahat, misalnya Riva sengaja datang  ke depan perpustakaan tempat Saija dan Adinda ketemuan untul  mengganggu kemesraan Saija dan Adinda. Omelan tidak hanya datang  dari Riva. Teman lelakinya juga ikut memberi nasehat kepada Saija untuk menjauhi Adinda, si anak jawara itu. Karena dapat mendatangkan bahaya. Tapi Saija tetap saja tidak mempedulikannya. Saija kadung terpikat dengan cewek manis ini. Dan pilihan ini adalah pilihan yang tepat yang bukan berdasarkan pamrih apalagi materi.   Keputusan yang berani itu ternyata mendatangkan banyak konsekwesi. Selain sering dicerca oleh teman-temannya  ia menjadi obyek ancaman Andre, lelaki yang sudah jelas-jelas menyukai Adinda. Meskipun Adinda tidak menyukainya. Andre, berkali-kali mengancam Saija. Andre lelaki pengecut karena tidak berani berhadapan langsung dengan Saija. Ia hanya berani kalau bersama gangnya. Menghadapi ancaman Andre Saija santai aja. Ayahnya mengajari untuk berani menghadapi tantangan semacam itu. Jangan mau ditindas. Lawanlah, kalau melihat ketidakadilan, begitu ayahnya mengajari.

Selain dari Andre ancaman juga datang dari Aji, kakak Adinda. Aji bersama gangnnya sering mengancam Saija juag. Aji sama seperti Abah Sujali. Bahkan lebih brutal dari Andre. Ia  Bertindak sewenang-wenang tanpa banyak perhitungan. Dengan limpahan harta ayahnya ia melakukan apa saja yang ia inginkan. Aji pernah menyulutkan rokoknya pada Rudi, gangnya  Saija. Ia juga pernah memukuli polisi yang menyetopnya. Tapi lagi-lagi Saija tak takut. Ia pernah mengajak Aji untuk bertarung di lapangan. Tapi Aji tidak mau. Aji memilih untuk pergi. Berkat dukungan gangnya Saija, Regas,  dan kawan-kawan citra Saija dan Adinda di sekolah bagus. 

Saija menjemput Adinda di rumahnya secara bersamaan Andre sedang berada di rumah Adinda. Orantua Adinda menyuruh pergi dengan Andre. Tapi diam-diam Adinda pergi bersama Saija. Rasa dendam Andre semakin membuncnah. Saija membawa Adinda datang menghadiri pesta ulangtahun temannya. Juga memperkenalkan Adinda kepada mamahnya. Saija dan Adinda sempat terlena.  Kemenangan sedang berpihak pada Saija. Hingga ia lupa masuk mata pelajaran bahasa Indonesia yang merupakan mata studi favoritnya.  Keadaan itu tidak berlangsung lama karena bu Novi, guru bahasa Indonesia berkunjung ke rumah Saija sekaligus bersilaturrahmi dengan ayahnya. Bu Novi bercerita tentang lika-liku Saija dan pacarnya Adinda. Akhirnya orangtua Saija tahu kalau Adinda adalah anak Abah Sujali. Mendengar itu Heryanto marah berat. Dan mengusir Adinda saat hendak mengajak Saija  jalan-jalan bersama mobilnya. Ada tantangan yang paling berat dengan ayahnya. Karena selama ini, setiap keputusan ayahnya selalu diawali dengan argumentasi yang jelas sehingga Saija bisa menerimanya dengan rasional. Tapi larangan ini tidak rasional. Saija berkali-kali  menanyakannya kepada ayahnya. Tapi kedua orangtuanya tidak bisa memberi argumen.

BABAK III
Saija sangat terpukul. Apalagi dalam waktu bersamaan komunikasi dengan Adinda terputus. Saija sering keluar tanpa sepengatahuan ayah dan ibunya. Di Sekolah Saija sering terlihat melamun. Faqih, teman dekatnya berusaha menolong dengan mengajak ia jalan-jalan ke laut dan beberapa tempat rekreasi. Tapi hasilnya nihil. Saija tetap tidak konsentrasi. Citra dan Yanto menyadari hal itu. Ia tidak tega melihat anaknya dalam keadaan menderita. Akhirnya mereka memberitahu kepada Saija alasannya mengapa ia melarang Saija berhubungan dengan Adinda. Kini Saija mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya dan Adinda. Ia  merenung.  Keadaan Saija semakin terpuruk.

Sementara Adinda berada dalam kungkungan ayahnya. Andre dan kakaknya Aji  memberitahu soal hubungan Saija kepada Abah Sujali. Abah Sujali terang-terangan melarang hubungan Saija-Adinda. Aji dan Andre bahkan merencanakan niat jahat untuk melukai Saija. Keadaan Saija belum juga pulih. Ia sedang mencari penguatan diri untuk menteralkan hatinya. Akhirnnya ia memilih untuk beristirahat ke rumah kakeknya di Lebak. Di Lebak ia menetap bersama kakeknya lebih dari seminggu. Sementara di sekolahan teman-temanya mencari Saija. Tapi tidak bisa dihubungi karena hp-nya sengaja dimatiin.  Kepada kakeknya ia  bercerita persoalan yang sedang melilit dirinya.  Kakeknya mendengarkan dan secara bijak memberikan jalan keluar. Kakeknya memberikan wejangan kepada Saija. Bahwa yang menjalan hidup itu bukanlah siapa-siapa. Tapi Saija sendiri. “Jika menurut Saija itu pilihan yang tepat mengapa tidak. Orangtua hanya memberikan  pilihan. Dan keputusan ada di Saija,” kata kakeknya.  Di kampung Saija juga bertemu dengan Firman dan Fitria yang mendorong dirinya untuk terus berhubungan dengan Adinda. Suatu malam, Saija  membuka Hpnya yang dimatikan sejak ia di Lebak. Banyak pesan masuk ke dalam inbox hp-nya isi bermacam-macam.

Rambat:  “Saija, kau dimana Adinda  nyari-nyari kamu terus. Katanya penting mau ketemu kamu,”
Rudi: “Kamu ngilang kemana? Gw Kerumah lo. Nyokap lo nggak tahu. Gw mau pinjem sepatu bola lo. Gw mau tanding,”
Adinda : Saija, maafim aku. Dua hari kemarin aku dipaksa ikut ke Bandung. Saija kamu ada dimana? Aku pengen ngomong sama kamu. Penting!! Adinda: I love You.  

Akhirnya Saija menemukan jawabannya. Ia harus mengambil keputusan. Ia harus memilih. Ia harus mendengarkan jawaban Adinda. Seperti yang diutarakan oleh Kakeknya.  Saija akhirnya pulang dengan membawa semangat baru. Sucitra menyambut Saija dengan senang. Tapi Heriyanto agak dingin. Heriyanto malah seperti menuduh kalau Saija selama menghilang itu bersama Adinda. Saija agak kesal pada ayahnya itu. Sore itu ponselnya berbunyi dari Adinda untuk segera menemuinya. Padahal belum ganti bajunya masih kunyal. Dan obrolah dengan ayahnya belum selesai. Tapi Saija langsung bergeas menyatakan kepada ayahnya kalau hendak menemui Adinda. Ayahnya tersentak. Saija memacu motornya. Saat datang ke rumah Adinda yang dijaga ketat. Ternyata mobil Land Cruiser pergi meninggalkan Abah Sujali.

***

*) Piter Tamba CS dari GONG MEDIA CAKRAWALA siap membuat film Saija Adinda. Tinggal menunggu sponsor aja!

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.