Oleh: RG. Kedung Kaban
Arus kemajuan tehnologi yang begitu cepat membuat tidak ada lagi batas dalam tranformasi kebudayaan. Internet dan jaringan televisi telah menjadi media akses yang dalam sekejap bisa menyampaikan peristiwa apa saja di sudut penjuru dunia mana pun. Untuk itu, dalam memasuki era globalisasi ini, kita mesti mempunyai ciri kelokalan dalam bentuk kretifitas. Sebab kalau tidak, kita hanya akan menjadi masyarakat global yang hanya menjadi penonton, yang tentunya tidak pernah diperhitungkan oleh manusia di penjuru dunia lainnya. Maka dari itu, ajang kreatifitas di tingkat lokal mesti terus didukung agar tumbuh dan berkembang baik. Banyak cara sebagai bentuk dukungan, mengapresiasi ialah salah satunya.
FFB DALAM PERKEMBANGANNYA
Pemutaran film di program Festival Film Banten (FFB) telah memasuki minggu ke lima. Film perdana karya putra-putri lokal yang diputar ialah Belok Kiri Dilarang Langsung, kemudian Anak koin, Multatuli, Rumah Pohon dan Hari-Hari Adi. Untuk mengetahui sejauh mana respon masyarakat kepada program FFB, maka kami mewawancarai beberapa orang pemirsa Banten TV.
“Sebagai orang yang tinggal di wilayah Banten, saya selalu menonton Program FFB. Film-filmnya cukup berpotensi. Hanya saja sarana dan prasarana teknis tidak mendukung,” ungkap Alamsyah Rachmis, praktisi media. Kemudian disusul komentar oleh seorang keryawan PT Siemen Cilegon, Setiawan Hadi: “Kalo saya sih terkesan dengan film Hari-Hari Adi. Film ini cukup menyentuh karena bercerita tentang seorang anak pemulung yang memperjuangkan cita-citanya.”
“Film Multatuli cukup bagus, karena mengetengahkan pendapat sejarah dari perspektif yang berbeda. Film ini juga telah mengenalkan kepada generasi muda, bahwa pernah ada tokoh Multatuli terlepas dari pendapat yang berbeda tentang kepahlawanan dan kesastrawananya,” terang Ijoel, warga Penancangan Serang.
Kini giliran seorang ibu rumah tangga yang berkomentar, Ibu Pia, warga Komplek Permata: “Saya terkesan dengan tokoh Ikir di film Belok Kiri Dilarang Langsung. Actingnya sangat bagus. Tapi saya enggak ngerti jalan ceritanya. Maksudnya apa sih?”
Di saat kami mengantar anak-anak Banten Star (BS) untuk syuting Café Soleh di studio RCTI, Jakarta, kami pun meminta komentar artis-artis yang kami jumpai di sana tentang program FFB. Berikut dukungan dan pendapat para Artis tentang Program FFB: “Wah, di Banten ada FFB? Bagus tuh. Berkaryalah yang baik, agar jadi contoh bagi kota-kota lainnya,” ungkap Diki Candra, artis sinetron.
”Kalo kalian orang Banten enggak ikut FFB, kalian pasti nyesel. Siapa lagi kalo bukan kalian yang ngedukung kampung sendiri. Pokonya FFB top!” ujar Mpok Ati sambil mengacungkan ibu jarinya.
Selain dua artis ternama barusan, kini giliran artis cantik pendatang baru yang ikut komentar, ”Semoga FFB sukses deh. Trus ajak-ajak Dea dong untuk ikut main di filmnya,” tukasnya sambil tertawa.
Selain komentar dari mereka, tentu saja lebih banyak lagi komentar-komentar lain, baik yang bernada kritik maupun yang benada dukungan yang tidak kami wartakan di sini. Dan pendapat yang beragam itu tentu saja adalah bentuk perhatian masyarakat luas bagi program FFB. Dan untuk memeriahkan program FFB, kami menunggu siapa pun orang Banten atau yang ada di Banten untuk mengirimkan karya-karyanya yang berupa film.
SINETRON SI ADUY DALAM PERSIAPAN
Sebelum memasuki waktu syuting pada tanggal 14 Juli nanti, kami tengah melakukan banyak persiapan. Pembagian jobdesc crew pun telah kami lakukan. Berikut susunan crew dalam syuting sinetron komedi Si Aduy: Produser: Tias Tatanka, Pimpro: Ferry Benggala, Sutradara: Piter Tamba, Script writer: Tias Tatanka, Ass.Sutadara: RG. Kedung Kaban, Kameramen: Yoan Isnato, continuity: Muhzenden, Property: Sodik, Make Up: Iis Salon, Wardrobe: Distro Tribute.
Selain kami, Raja dan Ratu Banten Star, yang terpilih untuk memerankan tokoh penting di senetron komedi Si Aduy, juga telah melakukan berbagai persiapan. “Untuk persiapa syuting nanti, tentu Anggi sekarang ini sedang memperdalam karekter tokoh Citra yang akan Anggi perankan. Dan tentunya Anggi juga harus ngejaga stamina, biar tetap fit,” terang Anggi, Ratu BS.
“Saya sekarang punya PR baru, yaitu untuk dapat berbicara dengan logat bicara orang Banten Selatan, karena Si Aduy kan digambarkan sebagai pemuda yang berasal dari sana. Mudah-mudahan saya bisa. Do’ain ya!” ungkap Anton, Raja BS bersemangat!
Semangatnya Anton, Anggi dan anak-anak BS yang lain memang harus tetap berkobar. Begitupun dengan kami, team Gong Media Cakrawala (GMC), yang selalu berusaha menjaga semangat masing-masing dan mempersatukannya. Kami percaya, dengan kobaran semangat yang dipadukan akan membuat kami berada di titik pencapaian yang lebih baik dalam melahirkan karya. Dan semoga saja, dulur-dulur sekalian juga mempunyai semangat yang sama untuk selalu memperhatikan kami. Ayo dukung kami, putra-putri Banten yang tengah mengasah potensi sebagai persiapan memasuki era globalisai dengan karya-karya!
Leave a Comment
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
