VIDEO PORNO DAN BAKAT TERPENDAM

wall-2.jpgOleh Gola Gong – Banten Raya Post 22 Agustus 2007

Banten Star sudah lebi dari 1 tahun berkiprah. Sejak diluncurkan Agustus 2006 lalu di Rumah Makan S’Rizky, seratusan remaja Banten mengikuti audisi. 40 orang lolos nominasi. Kemudian 20 orang dipolling di Radar Banten. Maka terpilihlah Anggie Rospidia dan Anton Chandra sebagai Ratu dan Raja Banten Star.Banyak yang kecewa dengan pasangan yang menyabet jawara itu. Tapi, sebetulnya yang lebih penting, remaja di Banten mulai memasuka era kompetisi. Mereka harus mulai mau berlapang dada menrima kekalahan dengan cara polling, dimana yang mendapat suara terbanyaklah yang menjadi pemenang. Lihatlah, bagaimana orang-orang mnejagokan Joy Tobing sebsgai “Indonesian Idol”, tapi justru Delon yang menyabetnya.

PROGRAM TV
Sekarang yang paling penting, bagaimana kelanjutan keduapuluh finalis Banten Star. Bagaimana nasib mereka selanjutnya? Bakat-bakat terpendam mereka apakah akan usang tersembunyi di laci-laci meja? Apakah Gong Media Cakrawala (GMC), selaku event oraganizer yang mengelola mereka, diam berpangku tangan? Tidak. Kami mencoba mengarahkan bakat mereka, menyambungkan mereka kepada pihak-pihak yang berkompeten dalam bidang seni, terutama film.

Semuanya bergegas. Dua program regular Hikmah Fajar di RCTI menjadi langganan keduapuluh Banten Star untuk mengasah bakat. Fragment relijius “Ujang Santri” dan “Café Soleh” menjadi tempat latihan yang nyaman. Mewreka mengenal apa itu team work saat memroduksi sebuah program televisi. Tidak berhenti disitu saja, bekerjasama dengan Rumah Dunia mengrejakan film pendek “Padi Memerah”. Film PM itu sukses saat soft launching di “Ode Kampung 2”, 20 – 22 Juli lalu. Beberapa anak Banten Star pun terlibat dalam pembuatan program “Festival Film Banten” di Banten TV. Mereka menjadi host. Mereka seolah menjadi host-host di televise swasta; Nirina, Daniel, Indra Bekti, atau Olga. Untuk sementara, bakat-bakat terpendam mereka tersalurkan, walaupun belum maksimal.

Sebetulnya ada program “Dunia Kampus” di Banten TV, yang sedang kami godok. Kami masih menunggu pihak kampus menyetujui program ini. Program TV memang tidak mudah. Harus ada biaya produksi untuk mewujudkannya. Pengusaha-pengusaha di Banten masih terbiasa beriklan di koran. Butuh waktu untuk bisa memasuki fase ini. Iklan TV koyo pun sudah merkea ikuti di Tanjung Lesung.ya

SI ADUY
Program TV berikutnya adalah sinetron komedi remaja “Si Aduy”. Tokoh remaja asal Banten Selatan rekaan Si Uzi ini diankat ke sinetron oleh kami, karena masih relevan dengan situasi dan kondisi remaja Banten yang kadang suka berlebihan menyikapi modernisasi. Episode pertama sudah selesai diproduksi. Sekarang sedang dalam tahap paska produksi, editing dan mencari-cari format lagu temanya yang pas. Sinetron komedi ini sangat berpeluang memfasilitasi bakat-bakat remaja Bnen di bidang acting. Banten TV sudah siap menyiarkannya. Hanya saja, kami sedang berpikir keras mengakali biaya produksi untuk 12 episode selanjutnya. Akankah ada para pengusaha Banten ikut mendukung program si Aduy ini? Akankah kita semua peduli mendukung bakat-bakat mereka yang terpendam?

Tentu kami harus jungkir balik mewujudkan ini. Untuk kemajuan, dibutuhkan perjuangan dan do’a seperti lagu Rhoma Irama. Keja keras. Tanpa itu semua, nihil. Mimpi melihat bakat remaja Banten tersalurkan dan memanfaatkan waktunya untuk hal-hal positif hanya bisa terwujud jika ada harmonisasi antara seluruh lapisan masyarakat; pengusaha dan penguasa. Produsen dan konsumen. Tentu kita tidak ingin nasib remaja Banten seperti kasus video porno remaja di Rangkasbitung. Betapa sedih hati kita, jika mengingat peristiwa “Lebak Membara” itu. Seluruh TV Swasta nasional mewartakan iut. Para ulama Banten sampai merasa malu dan menganggap peristiwa cabul itu sudah mencoreng Banten yang dikenal sebagai kota santri.

Tapi, janganlah kita hanya menyalahkan mereka. Cobalah para orangrua bercermin, sebetulnya apa yang sudah mereka lakukan terhadap anak-anaknya? Terutama para pemimpinnya. Sudahkah mereka membuatkan tempat-tempat yang bisa menyalurkan bakat anak-anaknya? Sudahkan mereka mendukung kegiatan-kegiatan yang menampung bakat anak-anak mereka. Gedung kesenian dan perpustakaan, dua hal sepele yang luput jadi perhatian para orangtua dan pemimpin. Kadang kita harus berpikir keras, sebtulnya apa yang ada di benak para eksekutif dan legislative terhadap bakat-bakat para remaja di Banten?

Banten TV termasuk lembaga yang memfasilitasi bakat generasi muda Banten. “Tidak hanya di film, tapi juga di musik, “ kata Djauhari Ardiwinata, GM Banten TV, yang kii merilis program “Dangdutan Yuuuk…” Terhadap GMC, Djauhari sangat mendukung. “Kami berharap, bakat-bakat remaja Banten tertampung di Banten TV. Dan GMC adalah mitra kami.”

LUPUS
GMC – walaupun seperti debu – mencoba membuka peluang, agar bakat remaja Banten tersalurkan. Pada Sabtu, 18 Agustus 2007, pukul 11.00 WIB, bekerjasama dengan Rumah Dunia, mendatangkan Hilman “Lupus” Hariwijaya, produser dari Lupus Entretainment. Hilman selain ditemani Boim Lebon dan Gusur, juga memboyong para artis film horror “The Wall”; Catherine dan Savira

Beberapa anak Banten Star; Selvy, Novy, Ferdy, Rudi, Anggi, dan Ghofur terselip di atara sekitar 50-an peserta diskusi. Setelah pemutaran thriller “The Wall” yang kurang makimal, karena di tempat terbuka, Hilman membebrkan cara pembuatan film “The Wall”. Hilman di film “The Wall” ini menjadi sutradara sekaligus penulis skenarionya. “Biayanya lebih dari 1 milyar rupiah,” kata Hilman, didampingi co-produser, Nessa.

Gusur, menejer produksi Indosiar, mengungkapkan, bahwa artis-artis baru tetap dibutuhkan. “Banten Star bisa meraih peluang itu. Datang saja ke Indosiar. Bawa port folionya. Kami selalu butuh wajah-wajah baru,” kata Gusur.

Nah, jika semua elemen masyarakat menyadari ini semua, bahwa jika ingin generasi mudanya selamat dan tidak rusak moralnya, gampang sja. Fasilitasi bakat mereka. Sediakan gedung kesenian dan perpustakaan. Dua tempat itu sekaligus bisa memfasilitasi otak kiri (kognitif) dan kanan (afektif) remaja Banten. Dengan begitu, remaja Banten akan memiliki kesibukan yang luar biasa, sehingga peluang untuk melakukan hal-hal sepele seperti membuat video porno atau nge-drugs akan diminimalisir. Tidak precaya? Ayo, kita buktikan!

2 Comments

  1. wahhh….. ngomong2 nich situs ini bisa di bloking /// lo…

    tapi penilaian gue terhadap webnya kurang baik dalam pengolahanya.

    emang sih gue belum buat web ntarrr;”’ kalau dah ada duit ya…
    gue mau beli hosting ma domainya…

    webnya ini kurang asikkkk… om gimana mau banyak pengunjung…. gak meriahhhhhhhhhhh…..

  2. ntarrrrr gue kabarin apa celah keamanannya Okeeeeeeeeeeeeeeee….. Ommmmm


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment