Oleh: RG. Kedung Kaban
Waktu memang tak pernah berhenti berputar. Ia yang menghadirkan hari esok menjadi hari ini, hari ini menjadi kemarin. Maka setiap peristiwa di hari yang telah lalu biasa kita namakan kenangan. Kenangan yang bisa jadi tidak akan pernah terulang lagi di hari ini atau di hari mendatang. Dengan kata lain, kenangan adalah sesuatu yang sangat berharga bagi hidup setiap orang. Sebab kenangan bisa kita jadikan ”kaca spion” guna kita menengok masalalu yang tentu akan menjadikan kita lebih berpengalaman di masa mendatang. Maka, hargailah setiap kenangan dengan menyimpan baik-baik di lembar ingatan kita. Tapi tentu kenangan bisa juga disajikan dalam bentuk lain, film misalnya. Dengan film yang bermuatan kisah pribadi tentu bisa memberi warna lain saat kita menyetelnya. Dan jika kenangan kita itu sarat dengan hikmah kehidupan yang bisa dipetik semua orang, bukankah bila dalam film bisa juga kita suguhkan bagi orang-orang di sekeliling kita sebagai media pembelajaran. Jika Anda berminat untuk mengabadikan kenangan Anda dalam bentuk film, kami Gong Media Cakrawala (GMC) siap melakukannya. Maka jadikan kenangan Anda lebih berarti dan hidup selamanya.
FILM DOKUDRAMA DALAM PEMBICARAAN
Setelah sukses membuat film dokudrama Selvi, finalis Banten Star (BS) berbagai pembicaraan dari beberapa relasi dengan nada penasaran pun terlontar. Seperti dari Jauhari Hardi Winata, Divisi film PARFI Banten ini berkomentar, “Film Dokudrama ini memang sudah layak ditonton. Film Dokudrama ini juga sudah layak jadi FTV(Film Televisi). Ide ceritanya sudah cukup bagus. Tapi kalo untuk FTV tentu pemainnya harus dicasting lagi dan ceritanya lebih dibuat menegangkan. Misalkan diberi adegan berantem.”
Film dokudrama ini memang dimaksud untuk dokumentasi pribadi Selvi dan Ijul, sang suami. Sehingga alurnya pun tak keluar jauh dari kisah nyata Selvi dan IJul. Sedangkan para pemain pendukung dari film ini murni rekomendasi dari Selvi dan Ijul. ”Mereka itu teman-teman band saya,” terang Ijul saat hendak syuting. Untuk mengangkat film dokudrama yang berjudul Seputih Cinta Kita ini menjadi FTV tentu harus ada pembicaraan terlebih dahulu dengan Ijul dan Selvi. Sebab dengan dijadikannya film dokudrama ini FTV tentu akan menjadi konsumsi umum.
Sementara itu, seorang relasi kami, Andi Suhud tampak penasaran ingin melihat film Dokudrama ini, “Mau lihat dong filmnya. Saya emang enggak sempat nonton di pesta pernikahan Selvi. Eh, ngomong-ngomong berapa sih biaya buat bikin filmnya? Kalo ada yang nanya ke saya kan saya udah tau.”
“Pokonya murah. Kalo ada yang mau hubungin GMC aja deh,” jawab saya.
SYUTING REKA ADEGAN
Senin, 17 September 2007 kemarin, Anggi Rospidia (finalis BS), Feri Benggal dan Piter Tamba (kordinator GMC), melakukan syuting reka adegan peristiwa pembunuhan yang menimpa warga lebak untuk program WANTED di ANTV, yang biasa tayang setiap malam Selasa. Syuting ini menggunakan dua lokasi, yaitu rumah salah seorang warga di Bumi Agung Permai 1 dan Hotel Taman Sari. Syuting dimulai pada pukul lima sore hingga menjelang magrib. Setelah berbuka puasa dan sholat magrib, kami langsung melakukan syuting kembali hingga pukul setengah sembilan malam. Kru WANTED ini merasa puas karena adegan demi adegan dengan lancar diperankan oleh ke tiga orang ini. Untuk soal acting bagi mereka bertiga ini memang bukan barang baru. Piter Tamba adalah seorang aktor teater yang sudah sering melakukan pementasan di beberapa kota dan juga di salah satu stasiun televisi nasional. Sedangkan untuk film layar lebar dan sinetron ia juga sudah cukup sering. Dan belakangan ini ia juga tengah menekuni dunia Sutradara. Padi Memerah adalah salah satu film yang pernah disutradarainya. Sedangkan Feri Benggala semasa kuliah dulu di Jakarta Barat juga pernah bekerja di sebuah Rumah Produksi, yang kerjaannya membuat rekonstrusksi kenjadian-kejadian kriminal untuk sebuah tv nasional. Dan Anggi Rospidia, Ratu BS ini sudah barang tentu akting baginya adalah makanan sehari-hari. Karena selain terpilih menjadi Ratu BS, Anggi juga kerap main film layar lebar dan sinetron.
“Nanti kalo kami ada syuting di daerah ini lagi, kami minta bantuanya ya,” ungkap Firman, sang kameramen. Tapi tentu saja kami berharap di syuting nanti bukan untuk reka adegan pembunuhan, tapi syuting untuk yang lain. Karena peristiwa pembunuhan yang terjadi di Kota Bandung, dengan pelaku dan korbanya orang lebak ini jangan sampai terjadi lagi di bumi manusia ini!
PADI MEMERAH DAN BULE AUSTRIA
Senin malam, 17 September 2007 film Padi Memerah diputar di Rumah Dunia. Film ini sengaja kami putar di depan seorang tamu bernama Vicktor dari Austria. Ia adalah seorang film maker yang berkunjung ke Indonesia untuk membuat film kemanusiaan. Sebagai seorang film maker yang juga lulusan Akademik Film di negaranya, Vicktor sangat teliti menyimak adegan per adegan dari film Padi Memerah. Selesai nonton, kami melakukan diskusi tentang film Padi Memerah tersebut.
”Saya terkesan dengan simbol-simbol yang banyak dimunculkan dalam film ini. Dan saya juga terkesan dengan aktor dan aktris dalam film ini. Mereka bisa bermain dengan penghayatan penuh. Good luck!” katanya, memberi semangat. (*)
Leave a Comment
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
