Oleh Aji Setiakarya
Banten Raya Post – 31 Oktober 2007
Kehadiran sebuah media komunikasi baik koran, radio atau televisi harus menjadi motivasi peningkatan mutu dan kualitas sumber daya manusia yang ada. Ia harus merangsang dinamika pembangunan yang tengah terjadi di wilayah itu. Tentu saja, tidak terlepas dari peran dari pihak yang lainnya, seperti masyarakat dan pihak swasta. Dalam rangka itu keberadaan Gong Media Cakrawala (GMC) senantiasa ingin menempatkan diri sebagai mitra pembangunan yang memberikan manfaat di Banten ini. Mitra dalam merangsang perkembangan Banten yang lebih positif dan maju tanpa merugikan banyak hal. Langkah itu kami wujudkan dengan melakukan kerjasama bersama berbagai media komunikasi yang tengah ada di Banten. Selain dengan koran dan radio swasta, GMC juga telah menjajaki kerja sama dengan stasiun televisi lokal yang tengah menggeliat yaitu Banten TV. Selama ini beberapa kreasi teman-teman GMC telah disiarkan di Banten TV misalnya Festival Film Banten (FFB) yang mendapat apresasi positif`dari masyarakat. PELUANG MUDA
Untuk menjajaki kerjasama yang lebih luas, Jum’at (26\10) siang kami bertemu dengan jajaran pengelola Banten TV. Bertempat di “S” Rizki Serang kami mempresentasikan karya-karya GMC yang telah digarap. Sebagai production house (PH) lokal tentu kami akan mengangkat hal-hal kelokalan yang ada di Banten. Diantara karya kami yang dipresentasikan adalah Padi Memerah, Serial Film Televisi (FTV) berdurasi 34 menit. Padi Memerah yang digarap pada akhir 2006 lalu diperankan oleh para finalis Banten Star, yang merupakan hasil audisi di Banten. Selain berkarakter lokal film ini juga menjadi cermin bagi para petani di Indonesia karena lekat dengan fenomena yang umumnya dialami oleh para petani di tanah Air.
Seputih Cinta Kita (SCK) adalah FTV lainnya yang kita putar saat presentasi itu. Berbeda dengan Padi Memerah, SCK kental dengan romantisme anak muda. “Memang ini dibuat untuk hadiah pra wedding,” kata Feri Setiawan yang menjadi pengarahnya. Jika padi memerah setting didominasi di sawah. Maka SCK ini didominasi di tempat-tempat hiburan.
Karya-karya kami alhamdulillah mendapatkan apresasi yang cukup baik dari pihak BTV.
“Menarik ceritanya, lekat dengan kelokalan,” kata Benyamin. Memang sepatutnya sebuah karya untuk dikonsumsi masyarakat, kata Benyamin harus menarik. Selain itu juga bisa dijual alias ditonton orang. Benyamin yang dipercaya sebagai General BTV kemudian memberikan masukan tentang dinamika dan prospek yang ada di Banten. Menurutnya Banten dikaruniai potensi sunber daya alam yang melimpah karena itu harus dikelola secara maksimal. Anakanak muda Banten yang memiliki kreativitas harus menjadi yang terdepan di Banten. “Ini Sebuah peluang yang harus dimanfaatkan oleh putra-putri Banten,” tambah Pak Ben panggilan akrab Benyamin. Tak hanya itu, lelaki paruh baya yang pernah bekerja di stasiun televisi swasta nasional ini juga mengutarakan agar anak-anak muda Banten yang berkreasi itu harus tetap menyesuaikan diri dengan nilainilai masyarakat yang ada di Banten sendiri. “Banten kan terkenal dengan religius,” ungkap Pak Ben.
PENULIS PARFI
Sepertinya langkah GMC untuk menjalin kerjasama dengan beragam komponen masyarakat kreatif tidak sendirian. Beberapa lembaga yang peduli terhadap dinamika sumberdaya manusia yang ada di Banten juga melakukan hal serupa. Misalnya Persatuan Artis dan Film Indonesia (Parfi) daerah Banten. Pada Sabtu (27\10) lalu, Di markas Parfi Kawasan Pisang Mas Serang, mereka mengundang para penulis yang ada di Banten untuk bersilaturrahmi. “Kami ingin para penulis di Banten muncul,” kata Djauhari Ardiwinata pengurus Parfi yang membawahi bagian film. Djauhari mengatakan bahwa selama ini ia melihat para penulis di Banten terpecah-pecah sehingga tidak memiliki kekuatan. Melihat kondisi itulah Parfi ingin menjadi fasilatator para penulis.
Pertemuan itu dihadiri Khatib Mansyur, penulis yang juga mantan jurnalis berita Antara, Gola Gong, penulis novel dan skenario Perwakilan Rumah Dunia Firman Venayaksa dan Aji Setiakarya, Penyair Sulaeman Djaya. Sementara dari GMC hadir Feri Setiawan dan Yoan Isnanto. Niat Parfi disambut baik oleh Para penulis Banten. Khatib Mansyur, misalnya mengucapkan terimakasih kepada Parfi yang sudah mengundangnya. Pemilik sanggar Sengpho ini kemudian mengusulkan agar di lembaga Parfi ada divisi yang anggotanya penulis. “Supaya penulis ada pengharagaan,” kata Khotib. Aji Setiakarya yang masih mahasiswa di Untirta menyambut semangat niat Parfi mewadahi penulis Banten. Ia berharap niat Parfi bisa menciptakan atmosphire dunia kepenulisan di Banten semakin menggeliat. Apresiasi juga datang dari Firman Venayaksa. Selaku penulis ia merasa gembira dengan langkah Parfi. Hanya saja Firman menanyakan tentang klasifikasi penulis. Soalnya, kata dosen Untirta ini penulis itu banyak. Dan tidak semua 0-penulis bisa bikin tulisan yang berhubungan dengn film. Mengomentari hal itu Gola Gong memberikan solusi. Menurutnya semua penulis bisa bekerja di film. “Mereka yang cenderung akademik bisa dijadikan sebagai tim riset yang nantinya bisa dijadikan data untuk diolah dalam pembuatan skenario,” ungkap Gong. Di akhir acara pertemuan itu, para sepakat untuk menindaklanjuti pertemuan dengan karya-karya nyata. Misalnya pembuatan skenario yang kemudian digarap filmnya oleh Parfi Banten. Bahkan pada kesempatan itu diperbincangkan niatan untuk membuat dokumentasi audio-visual tentang perjuangan masyarakat Banten dalam mewujudkan Provinsi Banten. Khatib Mansyur yang pernah menulis buku dokumentasi sejarah perjuangan provinsi ditunjuk sebagai 0-penanggungjawab penulisannya. Semoga ini tandabaik untuk para penulis Banten. Bravo penulis. Bravo Banten! (Tim GMC)
1 Comment(s)
Comments RSS TrackBack Identifier URI

wah..info baru. bagus deh. semoga tidak selalu jalan di tempat. maju teruss…