Sejak bergulirnya Tabloid Kaibon: Media Ramah Keluarga Banten, edisi perdana sebagai bagian garapan Gong Media Cakrawala (GMC), pada awal Desember 2007 lalu, terjadi kesibukan berbeda di kantor GMC di Jalan Bhayangkara No.105. Hampir setiap hari aktivitas keredaksian berjalan. Wartawan Kaibon datang dan pergi untuk mencari dan mengetik berita. Selain itu divisi berita GMC bekerjasama dengan Banten TV untuk program berita televisi “Banten Hari Ini”, sontak menjadikan GMC semakin harus bergerak cekatan. Hal ini terkait, ke depan, berbagai rencana kerja dan program akan kembali harus disiapkan. Bahkan tanpa terasa Klab Kreatif GMC mulai didatangi kalangan pelajar dan mahasiswa untuk belajar jurnalistik, sastra, dan film, mengingat aktivitas belajar akan dimulai pada awal Februari mendatang. Hal ini kami sadari memerlukan waktu dan ketekunan dari masing-masing individu di tubuh GMC untuk menjadikan sebuah kelompok yang profesional. Ini adalah proses di mana tahap pembelajaran dimulai dari sini. Bismillah, kami terus melangkah.
KAIBON EDISI 3
Tak ada gading yang tak retak, begitu pepatah mengatakan. Di balik kesempurnaan pasti terselip kekurangan. Namun ketika hal itu dijadikan koreksi dalam rangka evaluasi kinerja, maka setidaknya bisa ditekan serendah mungkin. Itu juga terjadi dalam proses penggarapan Tabloid Kaibon.
Pada Kaibon Edisi perdana yang terbit pada 2 Desember 2007, tingkat kekurangan diakui cukup tinggi, dimulai dari banyaknya salah ketik dan kurang harmonis pada desain halaman. Menyusul kaibon Edisi 2 yang terbit pada 2 Januari 2008. Mulailah kekurangan itu diminimalisir meski pun masih dijumpai kesalahan. Tapi porsinya sudah rendah. Dan Alhamdulillah, pada Kaibon edisi 3 yang terbit pada Sabtu (19/1) tingkat kekurangan itu sudah tak begitu nampak.
Hal ini setidaknya dilihat dari beberapa respon lewat SMS yang masuk ke redaksi menyusul animo masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga, terkait kehadiran kaibon di tengah-tengah mereka. Situasi ini tentu kabar menggembirakan. Ditambah dari kalangan Budayawan yang sangat antusias dengan adanya halaman yang memang khusus membahas budaya: suplemen Babad, lembaran khusus kebudayaan.
BABAD
Digawangi oleh Toto ST Radik, selaku Redaksi Pelaksana, dan Firman Venayaksa sebagai Redaktur, menjadikan Tabloid Kaibon melahirkan Rubrik Babad. Rubrik ini sejatinya membahas seni dan budaya. Ada Cerpen, puisi, dan esai budaya. Menyikapi esai budaya, hal ini dipertegas Toto ST Radik dalam memahami kebudayaan.
“Budaya tidaklah harus berupa ritual atau kegiatan-kegiatan yang cenderung pada ragam bidang kesenian: musik, rupa, teater dan sastra,” Papar Mas To, panggilan akrabnya. Ia menambahkan, “Budaya itu juga fenomena atau anggapan-anggapan di tengah masyarakat. Misal, budaya berfikir, berprilaku, dan lainnya.” Seperti yang ditulis pada edisi 3 sekarang. Budaya masyarakat yang menganggap hutan itu tempat hantu, ternyata disikapi berbeda oleh Liem Oei Ping, pemilik Toko Krakatau di Royal dengan “Rumah Hutan” sebagai bantahan budaya tersebut.
Lembaran Budaya ini bagian dari tanggung jawab kami, karena dapur redaksi KaiBon diisi oleh para relawan Rumah Dunia. Maka tak heran jika rubrik sastra dan budaya menjadi prioritas utama kami. Nah, bagi para pelaku, penikmat, dan pengamat kebudayaan di sekitar kita, Kaibon membuka peluang untuk berbagi gagasan demi tercipatanya budaya yang semestinya. Baik lewat cerpen, puisi, atau esai budaya. Honornya juga lumayan. Untuk cerpen dan puisi disediakan honor Rp. 50.000,- untuk opini ada ada voucher belanja sebesar Rp. 50.000,- dari Aneka Swalayan.
Jadi, bagi anak muda di Banten, peluang ini jangan disia-siakan. Ini adalah bagian dari proses percepatan pembangunan SDM Banten di bidang pendidikan, khususnya di lingkup seni. Maka, janganlah berleha-leha.
PROGRAM
Kami memang tidak boleh berleha-leha. Urusan KaiBon terus berjalan. Kini di depan mata terpampang 2 program TV yang akan kami garap. “Kami sedang memersiapkan draft kontraknya,” kata Benyamin Rasyid, Direktur Banten TV.
Rencananya 2 program unggulan GMC; sitkom “Si Aduy” dan Relijitainment “Jalan Menuju Surga” akan ditayangkan di Banten TV. “Kalau ‘Si Aduy’ sudah oke. ‘Jalan Menuju Surga’ kami tertarik. Tapi, sedang kami godok biayanya,” Benyamin menambahkan.
Tim kreatif GMC; Aji Setiakarya, RG Kedungkaban, dan Langlang Randhawa, di sela-sela menggarap KaiBon, sibuk memersiapkan skenario 13 episode pertama “Si Aduy”. Mereka meeting dan memeras otak, karena ini adalah pengalaman baru.
Kata Kaban, “Menulis cerita komedi tidak gampang. Tapi saya berusaha. Idenya saya ambil dari pengalaman keseharian saya dengan teman-teman. Sekarang saya baru selesai nulis 3 episode.”
Kalau Langlang lain lagi. “Selain pengalaman pertama, menulis skenario menambah wawasan baru. Saya jadi lebih giat membaca buku tentang penulisan skenario. Terutama istilah-istilah pergerakan kameranya. Selama ini ‘kan bacaannya novel melulu.”
Oke, tunggu saja tayangnya di Banten TV. Salam.(*)
No Comments Yet
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment
